Kenyang setelah menghabiskan soto daging dan makan sate with my Father @Makul (Malang kuliner), sementara minum sebotol teh dalam botol yang dingin (eitss awas ngiler) tiba2 teringat kejadian sekitar 7 thn yg lampau…..
Saat itu aku sendirian di flat nemenin papaku yg lagi pengobatan di Mount Ellyzabeth Hospital di singapore karena penyakit kanker. Inget banget saat papaku lapar dan aku bikinin semangkok bubur buat papaku, pengennya sih bikin bubur hongkong (itu lho bubur yang sementara panas2 di tarus telor di atasnya), entah mengapa tiba2 ga jadi karena kuningnya pecah en alhasil kuninglah buburnya, dan rada amis. Padahal aku tau banget kalau bokap lagi laper bgt. Ehm mau ga mau aku sajikan aja di mangkuk dan coba ambil sebungkus abon, berharap bisa mengurangi aroma amisnya. Aku panggil papaku dari kamarnya (waktu itu kita sewa flat di sebelah Mount E.) dan dia duduk di depan mangkuk bubur hongkong yg ga jadi hahahah… papaku sambil makan sambil sedikit nyengir2 karena rasanya yg pasti rada aneh karena kuningnya pecah
tapi sambil senyum dia paksakan untuk makan sampai abis, sementara aku nungguin di dekatnya sambil harap2 cemas wkwkwkwk….
Tiba2 ini yang aku rasakan… Papaku abisin itu bubur karena ga mau aku kecewa dan mau menghargai apa yang anaknya buat meskipun rasanya ga enak, aku yakin banget sama perasaan itu. Karena kondisi sakit papaku waktu itu agak parah dan cuman bisa berharap sama Tuhan dan siap buat segala kemungkinan yang ada. So yg ada di dalam benaknya cuman pengen Hidup memberi arti bagi orang2 yang dia sayangi. Setelah beres makan papaku kembali ke kamarnya, dan aku mencuci peralatan makannya sambil mulai berlinang air mata (wkwkwk biarin ah ketahuan nangis di sini), belum pernah aku ngerasain hancur hati seperti itu…. OMG suwer tuh bubur rasanya pasti gak enak, tapi buat bokapku tuh bubur bagi dia rasa CINTA dan KASIH seorang anak (ciehhhh narsis banget sih eke bow wkwkwk) so dia ga peduli rasanya apa, tp buat dia bahagia banget kalau bisa habisin semangkok bubur itu….
Jujur kadang kala aku sering ribut mulut kecil sama bokap karena kita berdua punya karakter yang sama2 kerasnya, tapi sesudah itu ya udah beres ga disimpan2 lagi. Aku akuin kadang nyesel banget klo rada kasar ke bokap. Belakangan rada stress karena merasa pekerjaan belum terlalu mantabh padahal pengen bisa pensiunkan bokap secepat mungkin, For your info, setelah bokap bangkrut dia masih coba bangkit lagi buat biayai aku dan adikku yg masih kuliah, meskipun sekarang tinggal adikku aja. Bokap usia sudah 60 thn lebih, sedih rasanya di masa pensiunnya bokap masih harus kerja seperti itu, pengen bisa beliin rumah dan mobil yang bagus, dilain sisi pengen juga nabung buat masa depan. Tapi aku percaya masa depan ditangan Tuhan saat aku lakukan bagianku dengan tekun.
1hal yang aku belajar banget dari bokap, diluar segala kekurangannya, dia pribadi yang rendah hati dan hidupnya memberi arti bagi orang lain. Pernah suatu saat bantuin orang yg ga punya duit buat beli becak supaya punya pekerjaan, kadang kalau sore hari bisa ngobrol2 sama bapak2 tua pengemis di depan toko yg lagi berteduh karena hujan. Ga pernah dia beda2kan orang karena status sosial, bahkan ditengah2 kekuranganpun selalu memberi kepada orang yang membutuhkan pertolongan.
Sebagai orang yang lebih muda, kadang merasa terpacu buat belajar rendah hati dan mempunyai hidup yang memberi arti kepada orang lain, seperti apa yang papaku teladankan. Kadang ada rasa malu, aku orang yang aktif di dalam gereja, tapi ternyata papaku jauh lebih “KRISTEN” ketimbang diriku. Beliau jauh lebih meneladani ajaran Kristus ketimbang diriku. Kata2 ini mulai terpampang buat diriku sendiri : “AYO BELAJARLAH UNTUK RENDAH HATI DAN MEMPUNYAI HIDUP YANG MEMBERI ARTI BUAT ORANG LAIN, BERHENTI MENGASIHANI DIRI SENDIRI DAN JANGAN HANYA BERFOKUS PADA MASALAH PRIBADI”
“namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”(Gal2:20)